INVESTOR VIEW: Fastest route to cleaner batteries runs through Asia
Liputan Media

Liputan Media
Simon dikenal sebagai salah satu praktisi berpengalaman dalam pengembangan energi bersih, investasi regional, serta dinamika ekonomi dan politik Indonesia. Halaman ini memuat pilihan liputan media, penampilan publik, dan visibilitas industri yang mencerminkan rekam jejaknya di sektor transisi energi, infrastruktur, pertambangan, dan investasi strategis di Asia Pasifik.
SOROTAN MEDIA
Australian Securities Exchange
Nickel Industries Ltd (ASX: NIC) Expands Solar Commitment with 220 MWp Quantum Power Asia Agreement
DuPont Sustainable Solutions and Silverwing Investment Ltd. Announce New Strategic Alliance
Quantum Expresses Interest in Clean Energy Technology Investment in Indonesia’s New Capital IKN
A $5 Billion Plan May Bring Indonesia’s Solar to Singapore
Coverage of the Indonesia–Singapore cross-border clean energy export initiative.
PERSPEKTIF INDUSTRI
Kehadiran Simon di ruang publik mencerminkan sudut pandang yang konsisten, praktis, dan berakar pada realitas komersial terhadap berbagai isu yang membentuk sektor energi dan investasi di Asia Pasifik, antara lain:
Simon tidak berbicara dalam tataran teori semata. Perspektif yang ia sampaikan dibentuk dari pengalaman langsung dalam mengelola dan mengembangkan proyek di berbagai pasar dan sektor yang ia bahas.
Penampilan Terpilih
CNA Summit 2026 · Jakarta
Menyoroti pentingnya kemampuan eksekusi dan pemahaman pasar lokal dalam membangun bisnis regional yang berkelanjutan di Asia.
Konferensi Tingkat Tinggi Ekonomi IBC Indonesia 2026
Shangri-La Jakarta, February 2026 · Konferensi kali ini membawa energi yang berbeda: bukan sekadar optimisme akan pemulihan pascapandemi, melainkan sesuatu yang lebih mendesak.

Konferensi tahun ini menghadirkan nuansa yang berbeda. Bukan lagi sekadar optimisme atas pemulihan pasca pandemi, melainkan rasa urgensi yang jauh lebih nyata. Dalam berbagai diskusi bersama para pengambil keputusan paling berpengaruh di ASEAN, muncul satu kesimpulan yang sama namun kurang nyaman untuk diakui: tingkat pertumbuhan Indonesia yang bertahan di kisaran 5% yang sebelumnya menjadi sumber kebanggaan kini mulai dipandang sebagai batas atas, bukan lagi batu loncatan menuju pertumbuhan yang lebih tinggi.
Tema konferensi tahun ini, “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity”, terasa lebih sebagai diagnosis daripada slogan aspiratif. Indonesia telah menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah fragmentasi global. Pertanyaan utamanya kini adalah apakah ketahanan tersebut dapat diterjemahkan menjadi ambisi yang lebih besar, dan apakah arsitektur kebijakan yang ada mampu mendukungnya.
Berikut tiga poin utama yang muncul dalam berbagai percakapan substantif:
Kepastian regulasi jauh lebih penting daripada konektivitas. Investor jangka panjang yang mempertimbangkan komitmen melalui Indonesia City Investment Accelerator tidak gentar terhadap risiko. Yang menjadi perhatian utama justru adalah ambiguitas. Harmonisasi kebijakan antar kementerian bukan lagi sekadar isu birokrasi, melainkan salah satu bentuk kepastian paling bernilai yang dapat ditawarkan Indonesia kepada pengelola modal global saat ini.
Kesenjangan SDM bersifat struktural, bukan insidental. Sesi “Investing in People” menjadi salah satu diskusi paling jujur dalam konferensi ini. Indonesia tidak kekurangan lapangan kerja. Tantangan utamanya adalah kesenjangan kapabilitas tenaga kerja mengenai persoalan yang tidak akan terselesaikan hanya melalui peningkatan FDI tanpa sistem pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan kapasitas yang terkoordinasi dengan baik serta dieksekusi secara lokal. Peluncuran B57+ Asia-Pacific chapter merupakan langkah yang positif, namun urgensi utamanya tetap berada pada kualitas implementasi, bukan sekadar desain kerangka kebijakan.
Green Capital adalah keunggulan strategis, bukan beban kepatuhan.
Diskusi bersama Global Ethical Finance Initiative kembali menegaskan pandangan yang telah lama saya pegang: Indonesia bukan sekadar mengikuti arus transisi energi global. Indonesia justru memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam masa depan geoekonomi ASEAN. Apabila dirancang dengan tepat, kebijakan karbon dapat menjadi instrumen daya saing nasional, bukan sekadar kewajiban kepatuhan.
Di luar agenda utama, berbagai pertemuan sampingan juga berlangsung sangat produktif. Saya berkesempatan kembali bertemu dengan kawan lama, Sofyan Djalil, yang pemikirannya mengenai agenda reformasi struktural Indonesia tetap tajam seperti sebelumnya. Saya juga bertemu dengan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, yang mandatnya berada tepat pada titik temu antara komitmen modal dan eksekusi kebijakan.
Percakapan lain di sela acara turut membahas Danantara dan konsolidasi BUMN di berbagai sektor strategis. Arah kebijakannya semakin jelas: Indonesia tengah bergerak menuju pengerahan modal kedaulatan yang lebih terkoordinasi, sementara rasionalisasi BUMN mulai dipandang bukan sekadar restrukturisasi administratif, melainkan prasyarat penting untuk menarik skala investasi swasta dan asing yang dibutuhkan guna mendukung ambisi pertumbuhan nasional.
Namun yang paling menarik adalah pengakuan terbuka mengenai besarnya transformasi operasional dan struktural yang masih harus dilakukan apabila entitas-entitas tersebut ingin mencapai target pertumbuhan kapitalisasi pasar yang diharapkan dari Danantara. Besarnya intervensi yang dibutuhkan, mulai dari tata kelola, positioning komersial, disiplin neraca keuangan, hingga efisiensi sektoral menunjukkan kompleksitas nyata dari agenda tersebut. Justru kebutuhan akan transformasi semacam inilah yang melatarbelakangi dibangunnya program transformasi Phoenix kami, dan percakapan seperti ini kembali mengingatkan betapa pentingnya kapabilitas tersebut di pasar seperti Indonesia.
Indonesia berada pada titik balik yang penting. Infrastruktur ambisi sedang dibangun. Apa yang terjadi setelah ini akan sangat ditentukan oleh kualitas eksekusinya.
Foto Lapangan

Bloomberg ITIF – 6 Juni 2024

GNEV 2024 · 12 Juni 2024

Kunjungan Lapangan IMIP · 27 Juli 2022

PT. Hengjaya Mineralindo · 27 Juli 2022

Pertemuan Simon G. Bell dan Tim · Mei 2022

Kunjungan Lapangan Gorontalo · 7 Juli 2020